Uncategorized

Mengapa Saya Ingin Menulis?

Sebenarnya sederhana saja, dengan menulis saya dapat melontarkan ide serta gagasan yang saya punya. Dengan menulis saya mendapat banyak informasi dan ilmu yang berguna bagi saya. 

Saya menyukai tulisan dalam bentuk artikel dan sejenisnya. Karena apa? Artikel memberi banyak informasi seputar isu-isu aktual. selain itu artikel juga memberukan solusi dari apa yang dibahas. selain itu dengan menulis artikel lebh bebas menyampaikan ide dan gagasan yang saya punya.

namun, yang jadi penghambat saya dalam menulis adalah rasa malas. sebenarnya banyak ide yang bisa saya jadikan bahan tulisan. selain malas, saya juga moody alias tergantung mood. Jika ada ide tapi mood untuk nulisnya ga ada, biasanya saya tunda dulu untuk menulis.

Advertisements

Jangan Permasalahkan oal Cina

Beberapa waktu belakangan ini, para pengamat bahasa banyak yang mempertanyakan penggunaan berbagai istilah dalam menyebut negara Cina. apalagi Kedutaan Besar Cina di indonesia menyebarkan maklumat kepada pemerintah dan media Indonesia untuk menggunakan kata “China” dalam menyebut negara tirai bambu tersebut.

Salah satunya Remy Sylado. Remy mengungkapkan penggunaan kata “China” telah merusak tata kebahasaan Indonesia. Remy lalu menngusulkan kata “Cungkuo” untuk menyebut negara Cina. menurut Remy, kata Cungkuo lebih pas dan orang di negara Cina pun mengeja nya demikian dalam menyebut kata “Zhungguo”.

Menurut saya, tak masalah pihak manapun menyebut kata Cina dengan sebutan yang beragam. Mau menyebut negara Cina dengan sebutan Cungkuo lah, Cina lah, China lah, Tiongkok lah dan sebagainya. Asal dalam penggunaannya tak menyinggung etnis tertentu yang menyebabkan masalah sosial.

Pesta Keboen, Restoran Klasik Berkonsep Unik

Restoran Pesta Keboen, merupakan salah satu restoran berkonsep klasik di Semarang. Lokasinya berada di Jalan veteran nomor 29, atau sekitar 2 kilometer sebelah selatan Simpang Lma Semarang.

Eksterior bangunannya mempunyai desain yang klasik ala zaman kolonial Belanda. Namun saat memasuki pintu masuk, perpaduan konsep klasik dan tradisional begitu kental. Hal ini bisa dilihat dari berbagai ornamen tradisional jawa dipadukan dengan interior ruangan  bangunan Belanda.

Image

Salah satu sudut ruangan Restoran Pesta Keboen yang berkonsep klasik. terdapat juga berbagai foto-foto bersejarah semarang tempo dullu. Sumber : Dok. Pribadi

Tri Sunarto, asisten manajer Pesta Keboen Semarang mengungapkan, konsep unik ini sengaja diangkat karena di semarang restoran yang memiliki konsep klasik tradisional masih sedikit. Menurutnya, dengan konsep klasik ini telah menjadi identitas dari restoran yang telah beroperasi sejak 1Juni 2000 tersebut.

“Pada awalnya restoran Pesta keboen ini merupakan rumah pribadi milik orang belanda. Didirikan sekitar tahun 1908. Pada tahun 1992, Ir. Dedek HP, selaku Owner kami membeli rumah ini. namun restoran ini baru dibuka pada tahun 2000,” ujarnya.

Makanan yang ditawarkan juga tak kalah uniknya. Dari daftar menu yang tersedia, restoran ini menyediakan menu masakan barat, Tiongkok, dan Tradisional. Lumpia, Galantin, Salad solo, Makaroni Scotle adalah beberapa contoh menu andalan yang ditawarkan.

Menurut Tri, Chicken Cordor Blue menjadi menu favorit yang sering dipesan pelanggan. Chicken Cordor terdiri dari daging ayam yang diasap serta ditaburi keju dan saus keju. “kebanyakan pelanggan kami suka makanan ini” tuturnya.

Kisaran harga yang ditawarkan dalam menu yang disediakan mulai dari Rp. 35.000 hingga 95.000. Pesta Keboen juga menawarkan beberapa paket untuk beberapa orang yang ditawarkan pada kisaran Rp. 250.000 hingga 450.000

“Biasanya para pelanggan kami pesan paket untuk beberapa orang. Kebanyakan dari mereka datang kesini beramai-ramai” ujar Tri.

Tri juga menuturkan, restoran Pesta keboen sering dikunjungi oleh public figure, artis, dan pejabat. Setiap public figure yang berkunjung ke Pesta keboen menuliskan tanda tangan dan ditempelkan di salah satu ruang makan restoran.

“Andy F. Noya, Mira Lesmana, Jaya Suprana sampai mantan presiden almarhum Gus Dur pernah berkunjug kesini. Biasanya mereka kesini saat kunjungan ke Semarang,” tutupnya.

Kesenian dan Kebudayaan Jadi Tumbal Penghematan

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte membuat keputusan kontroversial soal pemberian subsidi di bidang kesenian. Kebijakan ini bermula dari rencana kabinet rutte untuk melakukan penghematan anggaran negara, termasuk sektor seni dan kebudayaan. Ruttte beralasan, bidang kesenian merupakan “hobi kiri”, maksudnya, bidang kesenian tak mampu mandiri dalam membiayai kehidupannya sendiri, alias menggantungkan subsidi dari pemerintah pusat.

Salah satu korban dari penghematan ini adalah Instituut Konikjlik Voor de Tropen (KIT). Institut ini terpaksa ditutup akibat dihentikannya subsidi tahunan dari Pemerintah belanda. Nilai subsidi nya pun juga sangat besar, sekitar 20 juta euro per tahun.

Selain Institut Tropen, perpustakaan Tropen juga ikut “disuntik mati.”. Maklum, perpustakaan ini setiap tahunnya menggantungkan dana dari institut Tropen. Sebagian koleksi buku perpustakaan Tropen terpaksa diberikan secara gratis kepada masyarakat umum.

Dibandingkan dengan perpustakaan Institut Tropen, Miseum Tropen bisa dibilang sedikit beruntung. Sempat dikhawatirkan mengikuti jejak Institut dan perpustakaan Tropen yang gulung tikar, Museum Tropen masih akan mendapat subsidi hingga tahun 2016. Namun, Museum Tropen akan digabungkan dengan dua museum lainnya, yakni Museum Nasional Etnologi Leiden dan Museum Afrika di berg En Dal.

Rencana ini pun sontak menuai protes keras dari masyarakat Belanda. Mereka mengecam kabinet Rutte yang melakukan penghematan di sektor kesenian dan kebudayaan hingga berujung pada tutupnya KIT.

Yang saya tak habis pikir adalah, mengapa sektor kesenian dan kebudayaan menjadi sasaran dari penghematan anggaran negara? Pernyataan Mark Rutte yang mengatakan, bahwa ksenian merupakan “hobi kiri” perlu ditinjau kembali. Kesenian dan kebudayaan menunjukkan identitas sebuah bangsa. Maka dari itu, kegiatan konservasi kesenian dan kebudayaan harus didukung sepenuhnya oleh pemerintah.

Apalagi peran KIT dalam melakukan transfer ilmu konservasi kebudayaan tak bisa dibilang kecil. Institut KIT juga telah membantu banyak pihak dalam pengembangan museum, serta pengembangan konservasi budaya.

Pemerintah Belanda juga harus meninjau ulang tentang rencana penutupan fasilitas-fasilitas kesenian dan kebudayaan. Jika memang Pemerintah belanda memberlakukan penghematan, seharusnya dialihkan ke sektor yang lain. Memang, sektor kesenian dan kebudayaan membutuhkan anggaran yang sangat besar, namun karena sektor ini begitu vital, mau tak mau sektor ini harus tetap didukung sepenuhnya oleh pemerintah pusat melalui pemberian subsidi.